Home

Jalan Nusantara dan Dewi Sartika akan satu arahSalah satu cara yang ditempuh pemerintah kota Depok untuk mengatasi permasalah kemacetan yang sering terjadi dan dikeluhkan warganya adalah dengan membuat sistem 1 (satu) arah yang diterapkan pada jalan Nusantara dan jalan Dewi Sartika. Jalan tersebut memang sudah diterapkan pemerintah kota Depok sebagai zona merah titik kemacetan terlebih saat akhir pekan.

Rencana ini sudah lama ada jadi bukan karena ada kepentingan tertentu atau kepentingan bisnis tertentu seperti adanya Transmart dll. Tujuan diberlakukan sistem satu arah ini tidak lain untuk memecah masalah kemacetan yang kerap terjadi.

Namun ini baru uji coba jika dampaknya positif tentunya akan dilanjutkan Bisa seminggu atau dua minggu. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok akan menyiagakan 60 petugas untuk mengamankan penerapan arus lalu lintas sistem satu arah (SSA), di dua ruas jalan utama Depok, yakni Jalan Dewi Sartika dan Jalan Nusantara, di kawasan Pancoran Mas, Depok, mulai Sabtu (29/7/2017) depan.

Selain personel Dishub, pemerintah kota Depok akan menurunkan Satlantas Polresta Depok yang akan turut membantu memperlancar penerapan arus lalu lintas ini agar tak terjadi kebingungan pada para pengendara. Mereka disiagakan di titik-titik persimpangan ruas jalan satu arah.

Dengan penerapan sistem ini, arus lalu lintas di Jalan Dewi Sartika yang semula menggunakan sitem dua arah akan berubah menjadi satu arah, yakni dari arah barat ke timur, atau hanya dari arah Sawangan menuju ke Jalan Margonda maupun Jalan Kartini.

Sementara arus satu arah di Jalan Nusantara akan berlangsung dari utara ke selatan, tepatnya dari depan Gang Melati hingga simpang Jalan Dewi Sartika dan Jalan Pitara. Jadi arus satu arah di Jalan Dewi Sartika menjadi hanya ke arah timur saja sedang arus di Jalan Nusantara juga menjadi satu arah ke arah selatan.

Penerapan sistem satu arah ini akan berdampak ke dua ruas jalan utama lain, yakni Jalan Margonda dan Jalan Arief Rahman Hakim, sebagai akses jalan putar para pengendara.

(sumber : depoknews.id dan depok.go.id)

saya indonesia saya pancasilaMemperingati kelahiran yang bukan untuk sekadar perayaan bertambah umur, sesungguhnya bukan perkara enteng. Sebab berarti kita harus mengetahui esensi kelahiran dan penciptaannya. Ini juga yang terjadi ketika Presiden Joko Widodo menetapkan Hari Lahir Pancasila yang jatuh 1 Juni sebagai hari libur nasional. Melalui Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dikatakan tujuan besarnya adalah untuk mengukuhkan lagi semangat Pancasila dalam jati diri bangsa.

Dengan berbagai persoalan kebangsaan sekarang ini, jiwa Pancasila memang dirindukan. Namun ini tidak menghentikan pertanyaan efektivitas perayaan baru terkait Pancasila. Terlebih sudah lama kita memiliki Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh 1 Oktober.

Namun puluhan tahun diperingati, berikut juga dengan program sosialisasi ala doktrinasi, Pancasila belum juga meresap sampai akar rumput. Tidak hanya upaya mistifikasi yang gagal, Pancasila kini semakin diuji dan dipersandingkan dengan ideologi lain.

Lalu bagaimanakah peringatan baru ini bisa lebih mengukuhkan semangat Pancasila? Jika melihat upaya pemerintah, selain upacara yang digelar dan dihadiri Presiden di Gedung Pancasila, Jakarta, ada pula pekan peringatan yang digelar di kementerian-kementerian. Bertajuk Pekan Pancasila, acara itu berlangsung sampai 4 Juni.

Namun tetap saja rangkaian ini bisa sekadar seremonial yang tidak berdampak. Untuk menghindarinya, pemerintah sepatutnya belajar dari kesalahan Orde Baru, khususnya dalam penyakralan Pancasila. Pengembalian Pancasila kepada nilai luhurnya hanya bisa terjadi jika Pancasila tidak diperlakukan eksklusif. Sebab, sejatinya Pancasila adalah nilai-nilai yang sangat membumi. Ini bisa dimengerti jika kita menilik sejarah kelahiran Pancasila. Soekarno merumuskan lima nilai luhur itu dari perjalanan perjuangan yang berliku, termasuk selama diasingkan ke tempat terpencil di Ende, Nusa Tenggara Timur. Namun di sana pula ia menemukan makna kesetaraan dan kemerdekaan dalam bingkai bangsa yang beragam.

Pancasila yang ia rumuskan ialah nilai yang menjadi payung untuk semua suku, agama dan ras di nusantara ini. Dalam Pancasila tidak ada kata minoritas. Sebab Pancasila adalah tangga yang dapat membuat kelompok menjadi setara. Pancasila juga menjadi jembatan, sebagai pemersatu, keragaman dan perbedaan. Tak mengherankan bila Gus Dur secara saklek mengatakan tanpa Pancasila Indonesia bubar.

Esensi Pancasila juga pernah diingatkan oleh Presiden BJ Habibie pada 2011. Habibie percaya bahwa demokratisasi dan reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila adalah nilai ideal yang harus dibumikan dengan cara disesuaikan dengan berbagai kondisi masyarakat dan perubahan zaman. Bagi pemerintah, 'membumikan' Pancasila hanya bisa dilakukan lewat kebijakan yang menjunjung demokrasi dan kesetaraan dalam semua tataran. Kesetaraan ini bukan semata dalam perekonomian hingga kesempatan kerja melainkan juga terkait dengan hak asasi yang lebih mendasar, termasuk dalam kehidupan beragama.

Tidak hanya itu nilai keempat sila yang lain juga harus benar-benar diperjuangkan pemerintah dalam setiap program, baik berupa pembangunan infrastruktur maupun pembangunan karakter bangsa. Pada akhirnya, nilai luhur Pancasila juga baru bisa hidup jika tercermin dalam laku dan lisan para tokoh, dari pejabat negara, politisi, ulama sampai pendidik.

Sumber : http://news.metrotvnews.com

Demo Buruh

http://www.a-rega.com

Alamat : Perum Cijingga Permai Blok C No. 10

Cikarang Selatan Bekasi. 17550

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Tlp : +62856 9428 1989

Kirim Pesan