Wahidiyah: Pengertian, Sejarah, Ajaran, dan Cara Mengamalkan Sholawat Wahidiyah

Wahidiyah: Pengertian, Sejarah, Ajaran, dan Cara Mengamalkan Sholawat Wahidiyah

1. Apa Itu Wahidiyah?

Sholawat Wahidiyah
Sholawat Wahidiyah

Wahidiyah adalah sebuah gerakan tasawuf asli Indonesia yang berpusat pada pengamalan rangkaian doa sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai Sholawat Wahidiyah. Lebih dari sekadar bacaan sholawat biasa, Wahidiyah merupakan sistem bimbingan spiritual yang mencakup dimensi lahiriyah (syariat) sekaligus batiniyah (hakikat) dalam kehidupan seorang Muslim.

Secara resmi, ajaran Wahidiyah didefinisikan sebagai bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam menjalankan tuntunan Rasulullah SAW. Bimbingan ini meliputi tiga bidang utama: bidang Iman, bidang Islam, dan bidang Ihsan — mencakup segi syariat, segi hakikat/ma’rifat, serta segi akhlak.

Wahidiyah bukan merupakan agama baru, bukan pula aliran sesat. Ia adalah sebuah gerakan tasawuf kontemporer yang lahir dari rahim pesantren tradisional Jawa Timur, dan hingga hari ini memiliki jutaan pengamal di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri.

2. Sejarah Lahirnya Sholawat Wahidiyah

Awal Mula: Ilham Tahun 1959
Sejarah Wahidiyah bermula pada awal bulan Juli 1959 di Pondok Pesantren Kedunglo, Desa Bandar Lor, Kota Kediri, Jawa Timur. Saat itulah KH. Abdoel Madjid Ma’roef menerima apa yang beliau sebut sebagai “alamat ghoib” — sebuah petunjuk batin yang diterima dalam keadaan terjaga dan sadar, bukan dalam mimpi. Isi petunjuk tersebut kurang lebih adalah perintah “supaya ikut berjuang memperbaiki mental masyarakat lewat jalan bathiniyah.

Penyusunan Tiga Rangkaian Sholawat
Sholawat Wahidiyah tidak disusun sekaligus, melainkan secara bertahap dalam tiga bagian:
Sholawat Pertama (± 1959–1963).

  • Sholawat pertama yang disusun merupakan doa memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai kecintaan, kesadaran, dan ketenggelaman dalam tauhid. Sholawat ini mulai disiarkan dan diamalkan sejak tahun 1963.
  • Sholawat Kedua Setelah sholawat pertama dikenal, beliau menyusun sholawat bagian kedua yang memperdalam dimensi pengakuan dosa dan permohonan syafaat kepada Nabi SAW.
  • Sholawat Ketiga: Sholawat Tsaljul Qulub Pada suatu pengajian Kitab Al-Hikam (masih tahun 1963), ketika membahas konsep Haqiqotul Wujud dan penerapan Bihaqiqotil Muhammadiyyah, tersusunlah sholawat ketiga yang dinamakan “Sholawat Tsaljul Qulub” (Sholawat Pendingin Hati). Nama lengkapnya adalah Sholawat Tsaljul Ghuyuub Litabriidi Harorotil-Quluub (Sholawat Salju dari alam ghoib untuk mendinginkan hati yang panas).

Ketiga rangkaian sholawat ini, diawali dengan Surat Al-Fatihah, kemudian diberi nama “Sholawat Wahidiyah”. Nama “Wahidiyah” diambil sebagai tabarukan (mengambil berkah) dari salah satu Asmaul Husna Allah SWT.
Penyempurnaan dan Penerbitan Resmi

Setelah melalui proses penyempurnaan bertahun-tahun — termasuk penambahan kalimat nida’ “Yaa Sayyidii Yaa Rosuulallooh” pada Asrama Wahidiyah I tahun 1964, penambahan gerakan nidak Fafirruu Ilallooh pada tahun 1975, dan berbagai penambahan doa pada 1978–1980 — akhirnya pada tanggal 27 Jumadil Akhir 1401 H / 2 Mei 1981 M, Lembaran Sholawat Wahidiyah dicetak dalam susunan lengkap dan final disertai petunjuk cara pengamalannya. Susunan tersebut tidak berubah hingga sekarang.

3. Profil Muallif: KH. Abdoel Madjid Ma’roef

KH. Abdoel Madjid Ma'roef
KH. Abdoel Madjid Ma’roef

KH. Abdoel Madjid Ma’roef (wafat 7 Maret 1989) adalah sosok ulama kharismatik sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo, Desa Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Beliau adalah putra dari KH. Mohammad Ma’roef, pendiri pesantren Kedunglo.

Dalam dunia organisasi Islam, beliau juga dikenal sebagai anggota Syuriyah Nahdlatul Ulama (NU), yang menunjukkan betapa akar beliau kuat dalam tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Keilmuan beliau mencakup tasawuf, fiqh, dan berbagai cabang ilmu agama Islam.

Muallif Sholawat Wahidiyah telah mengijazahkan secara mutlak Sholawat Wahidiyah untuk diamalkan dan disiarkan dengan ikhlas (tanpa pamrih) dan bijaksana kepada masyarakat luas tanpa pandang bulu dan golongan. Ini berarti siapa pun boleh mengamalkan Sholawat Wahidiyah tanpa perlu meminta izin terlebih dahulu dari siapapun, karena ijazahnya sudah bersifat mutlak dan terbuka.

Setelah wafat, KH. Abdoel Madjid Ma’roef meninggalkan wasiat kepada organisasi PSW untuk menjaga kemurnian ajaran Wahidiyah dan meneruskan perjuangan menyebarkan kesadaran kepada Allah dan Rasul-Nya kepada seluruh umat manusia.

4. Ajaran Pokok Wahidiyah

Ajaran Wahidiyah memiliki lima konsep inti yang saling berkaitan dan menjadi fondasi spiritual bagi setiap pengamalnya:

  1. LILLAH – BILLAH (Karena Allah – Dengan Allah)
    Ini adalah ajaran paling mendasar dalam Wahidiyah. Lillah berarti segala aktivitas, niat, dan perbuatan seorang hamba harus dilandasi semata-mata karena Allah SWT. Sementara Billah berarti kesadaran bahwa semua yang terjadi, semua kekuatan dan kemampuan kita, sesungguhnya hanyalah dari Allah dan dengan izin Allah. Konsep ini melatih seseorang untuk mengikis sifat riya’ (pamer) dan ujub (bangga diri) dari dalam hati.
  2. LIRROSUL – BIRROSUL (Karena Rasul – Dengan Rasul)
    Lirrosul bermakna segala perbuatan harus sesuai dengan tuntunan dan sunnah Rasulullah SAW. Birrosul berarti menyadari bahwa hidayah dan taufik yang kita terima adalah berkat wasilah (perantaraan) Rasulullah SAW. Ajaran ini mendorong pengamal untuk terus meningkatkan kecintaan dan ketaatan kepada Nabi Muhammad SAW.
  3. LILGHOUTS – BILGHOUTS (Karena Ghouts – Dengan Ghouts)
    Ghouts dalam konteks Wahidiyah merujuk kepada Ghoutsu Hadzaz Zaman (pemimpin spiritual tertinggi pada zamannya). Ajaran ini menekankan pentingnya mengikuti bimbingan para wali dan ulama yang merupakan pewaris Nabi SAW, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.
  4. YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH (Menunaikan Hak Setiap yang Berhak)
    Ajaran ini mengajarkan agar setiap pengamal selalu menunaikan hak-hak yang menjadi kewajibannya — hak Allah SWT, hak Rasulullah SAW, hak orang tua, hak sesama manusia, dan hak makhluk lainnya. Prinsip ini membangun karakter Muslim yang bertanggung jawab secara sosial.
  5. TAQDIIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA’ FAL ANFA’ (Mendahulukan yang Lebih Penting, Lalu yang Lebih Bermanfaat)
    Ajaran ini mengajarkan hikmah dalam menentukan skala prioritas hidup. Hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban kepada Allah SWT harus dipandang lebih penting (ahammu), sementara hal yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang harus dipandang lebih bermanfaat (anfa’u). Prinsip ini membangun manusia yang bijaksana dalam mengatur waktu dan tenaga.

5. Isi dan Kandungan Sholawat Wahidiyah

Lembaran Sholawat Wahidiyah memuat rangkaian bacaan yang terdiri dari beberapa bagian utama:
Pembukaan: Diawali dengan hadiah Al-Fatihah (dibaca 7 kali) yang dihadiahkan ke haribaan Nabi Muhammad SAW.

pondok pesantren kedunglo
pondok pesantren kedunglo
  • Sholawat Wahidiyah Pertama: Doa permohonan kepada Allah SWT agar dilimpahkan sholawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terdapat permohonan agar “ditenggelamkan dalam pusat dasar samudra ke-Esaan Allah” sehingga tiada melihat, mendengar, dan bergerak melainkan dalam kesadaran Tauhid.
  • Sholawat Wahidiyah Kedua: Doa memohon sholawat sebanyak bilangan seluruh yang Allah ketahui dan termuat dalam Kitab-Nya.
  • Sholawat Tsaljul Qulub (Sholawat Ketiga): Sholawat pendingin hati yang berisikan pengakuan diri sebagai orang yang telah banyak berbuat zalim, dan permohonan syafaat kepada Nabi SAW. Di dalamnya terdapat kalimat-kalimat yang sangat menyentuh hati.
  • Nida’ (Seruan): “Yaa Sayyidii Yaa Rosuulallooh” — seruan kepada Rasulullah SAW yang dilakukan dengan berdiri menghadap empat penjuru.
  • Doa Penutup: Termasuk bacaan Fafirruu Ilallooh (Larilah kepada Allah), yang merupakan inti dari seluruh ajaran Wahidiyah — mengajak manusia untuk “berlari” kembali kepada Allah dari segala kelalaian dan dosa.

6. Cara Mengamalkan Sholawat Wahidiyah (Mujahadah)

Pengamalan Sholawat Wahidiyah disebut Mujahadah, yang berarti kesungguhan hati dalam beribadah. Berikut adalah adab dan tata cara pengamalan:
Adab Sebelum Mengamalkan
Sebelum mulai membaca, pengamal dianjurkan untuk:

  • Niat yang benar: Lillah (karena Allah), Lirrosul (mengikuti tuntunan Rasulullah), dan Lilghouts (mengikuti bimbingan Muallif/wali).
  • Hudlur: Menghadirkan hati di hadapan Allah SWT sepenuhnya.
  • Mahabbah dan Ta’dhim: Menumbuhkan rasa cinta dan hormat kepada Rasulullah SAW dalam hati.
  • Pengakuan Dosa: Mengakui dosa-dosa dengan jujur dan tulus, baik untuk diri sendiri, orang tua, guru, murid, pemimpin, dan sesama makhluk.

Amalan 40 Hari untuk Pengamal Baru
Bagi yang baru ingin mengamalkan Sholawat Wahidiyah, dianjurkan untuk melaksanakan mujahadah setiap hari secara berturut-turut selama 40 hari. Anjuran ini didasarkan pada hadits: “Barang siapa beramal dengan ikhlas karena Allah SWT selama 40 hari, niscaya terpancarlah sumber-sumber hikmah dari hatinya ke lidahnya.” (HR. Jami’ Shogir).

Fenomena Tangis dalam Mujahadah
Salah satu ciri khas pengamalan Wahidiyah adalah menangis tersedu-sedu — baik secara individual maupun massal saat mujahadah bersama. Ini bukan rekayasa, melainkan ekspresi alami dari kesadaran dan penyesalan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Momen ini disebut sebagai pintu masuk menuju hati yang bersih dan jiwa yang tenang.

Istighraq
Istighraq adalah kondisi pemusatan pikiran dan perasaan kepada Allah secara total selama mengamalkan sholawat. Ini adalah puncak dari mujahadah — ketika seorang hamba benar-benar hadir sepenuhnya di hadapan Tuhannya.

7. Jenis-Jenis Mujahadah Wahidiyah

Mujahadah dalam Wahidiyah tidak hanya dilakukan secara individual. Ada beberapa tingkatan mujahadah berjama’ah yang terstruktur:

  • Mujahadah Yaumiyah (Harian): Dilaksanakan setiap hari oleh pengamal secara mandiri, minimal satu kali dalam sehari semalam.
  • Mujahadah Usbu’iyah (Mingguan): Dilaksanakan secara berjama’ah setiap seminggu sekali oleh pengamal se-desa/kelurahan/lingkungan. Diselenggarakan oleh Pengurus PSW Desa/Kelurahan.
  • Mujahadah Syahriyah (Bulanan): Dilaksanakan setiap bulan sekali oleh pengamal se-kecamatan. Diselenggarakan oleh Pengurus PSW Kecamatan.
  • Mujahadah Rubu’ussanah (3 Bulanan): Mujahadah berjama’ah setiap 3 bulan sekali oleh pengamal se-kabupaten/kota.
  • Mujahadah Nisfussanah (6 Bulanan): Dilaksanakan dua kali setahun oleh pengamal se-provinsi. Diselenggarakan oleh DPW PSW setempat.
  • Mujahadah Kubro (Tahunan): Mujahadah besar yang dilaksanakan secara serentak oleh seluruh pengamal Wahidiyah di seluruh Indonesia pada setiap bulan Muharrom dan Rojab. Diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat PSW (DPP PSW).

8. Organisasi Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW)

Sejarah Pendirian
Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) adalah satu-satunya lembaga resmi yang didirikan langsung oleh Muallif Sholawat Wahidiyah pada 22 Juli 1964 M / 12 Robi’ul Awwal 1384 H, atau satu tahun setelah Sholawat Wahidiyah mulai disiarkan. Organisasi ini didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Legalitas dan Status Hukum
PSW adalah organisasi yang sah secara hukum di Indonesia:

  • Terdaftar di Dirjen Sospol Depdagri Nomor 1334 Tahun 1997
  • Terdaftar di Depdagri dengan SKT Nomor: 240/D.III.3/X/2009
  • Berbadan hukum terdaftar di Kemenkumham RI dengan SK MENKUM-HAM RI Nomor: AHU-31.AH.01.06 Tahun 2009
  • Sholawat Wahidiyah, Ajaran Wahidiyah, dan organisasi PSW telah mendapat pengecekan dari Kejaksaan Agung melalui Kejaksaan Negeri Kediri dan dinyatakan tidak bermasalah secara hukum.

Tugas Pokok PSW
PSW bertugas mengatur kebijaksanaan, memimpin pelaksanaan, dan bertanggung jawab atas:

  • Pengamalan Sholawat Wahidiyah
  • Penyiaran Wahidiyah kepada masyarakat luas
  • Pembinaan para pengamal
  • Pendidikan kader Wahidiyah

Struktur dan Wilayah Kerja
Kedaulatan tertinggi organisasi PSW ada pada Musyawarah Kubro Wahidiyah yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Wilayah kerja PSW mencakup seluruh Indonesia dengan jaringan DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) di setiap provinsi dan DPC (Dewan Pimpinan Cabang) di tingkat kabupaten/kota.

Setelah wafatnya Muallif pada 7 Maret 1989, Sekretariat PSW Pusat dipindahkan dari Kedunglo Kediri ke Pondok Pesantren At-Tahdzib, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur — sesuai wasiat Muallif tanggal 7 dan 9 Mei 1986.

Lambang PSW
Lambang PSW adalah tulisan huruf Arab dari ayat Al-Qur’an berbunyi “FAFIRRUU ILALLOOH” (berlari kembalilah kepada Allah) berwarna putih di atas dasar warna hitam berbentuk lonjong, dikelilingi 8 garis lengkung.

9. Manfaat Mengamalkan Sholawat Wahidiyah

Berdasarkan pengalaman para pengamal dan keterangan resmi dari Wahidiyah Pusat, mengamalkan Sholawat Wahidiyah secara istiqomah (konsisten) memberikan berbagai faedah spiritual dan psikologis:
Manfaat Batiniyah:

  • Hati menjadi lebih jernih dan tenang
  • Timbul kesadaran mendalam untuk kembali kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW (ma’rifat billah)
  • Rasa bingung, takut, resah, dan gelisah berkurang atau hilang
  • Meningkatnya ketundukan dan kekhusyukan dalam ibadah

Manfaat Lahiriyah (Sosial):

  • Mendorong perilaku ramah tamah, sopan santun, dan saling menghormati
  • Menumbuhkan sikap tawadhu’ (rendah hati)
  • Meningkatkan semangat saling menolong dan gotong royong
  • Membentuk karakter jujur dan dapat dipercaya

Manfaat Psikologis:

  • Menjadi sarana mujahadah (kesungguhan) dalam mengatasi nafsu negatif
  • Membantu proses penyembuhan jiwa dari trauma, tekanan, dan kecemasan
  • Memberi ketentraman jiwa yang bersumber dari kedekatan dengan Allah SWT

12. Kesimpulan

Wahidiyah adalah kekayaan spiritual Indonesia yang lahir dari kedalaman tradisi pesantren Jawa Timur. Sebagai sebuah gerakan tasawuf kontemporer, Wahidiyah menawarkan jalan praktis untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pengamalan Sholawat Wahidiyah yang disertai dengan internalisasi nilai-nilai luhur: keikhlasan, ketawadhu’an, tanggung jawab, dan kecintaan kepada Nabi SAW.

Apapun pandangan berbagai pihak terhadap Wahidiyah, yang tidak bisa dipungkiri adalah dampak positifnya bagi jutaan pengamal yang merasakan ketenangan hati, perbaikan akhlak, dan peningkatan kualitas spiritual setelah mengamalkannya secara istiqomah.

Bagi Anda yang tertarik mempelajari lebih dalam, kunjungi situs resmi Wahidiyah di wahidiyah.org atau hubungi DPC PSW di daerah Anda.
________________________________________
Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber terpercaya, termasuk situs resmi wahidiyah.org, penelitian akademis, dan jurnal ilmiah yang telah terverifikasi. Untuk informasi lebih lanjut dan terkini, silakan kunjungi wahidiyah.org.

Tinggalkan komentar