Pengasuh Perjuangan Wahidiyah Diundang ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi

Hadrotul Mukarrom KH. Abdul Latif Madjid Pengasuh Perjuangan Wahidiyah Diundang ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi

Pendahuluan: Sebuah Momen Bersejarah bagi Keluarga Besar Wahidiyah

wahidiyah bersama jokowi
wahidiyah bersama jokowi

Rabu, 10 April 2019. Sebuah tanggal yang akan selalu dikenang oleh jutaan pengamal Sholawat Wahidiyah di seluruh Nusantara dan mancanegara. Pada hari itu, Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA — sosok yang selama puluhan tahun berdiri teguh sebagai Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur menerima kehormatan luar biasa:

Sebuah undangan resmi dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, untuk hadir di Istana Negara Jakarta.

Peristiwa ini bukan semata-mata kunjungan protokoler biasa. Ini adalah pengakuan tertinggi dari pimpinan negara terhadap sosok ulama, guru rohani, dan pejuang moral bangsa yang selama hidupnya mendedikasikan seluruh jiwa dan raganya untuk kemaslahatan umat bukan melalui jalur politik atau kekuasaan, melainkan melalui jalan taubat, dzikir, dan penyebaran Sholawat Wahidiyah.

Makna Undangan: Negara Mengakui Peran Ulama

Undangan Presiden Jokowi kepada KH. Abdul Latif Madjid merupakan sebuah pengakuan negara yang sangat bermakna. Jauh sebelum itu, Wahidiyah juga pernah mendapat perhatian dari para pemimpin negara di era sebelumnya termasuk kisah yang beredar di kalangan jamaah bahwa Presiden Soekarno pun pernah mengamalkan Sholawat Wahidiyah.

Dalam pertemuan tersebut Presiden mengajak untuk mensukseskan pemilu serentak pileg dan pilpres yang akan dilaksanakan pada bulan dan tahun ini (17 April 2019), beliau dalam hal ini Presiden mengajak untuk menjaga tali silaturahmi antar sesama umat dan menghindari segala fitnah yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tradisi hubungan harmonis antara Perjuangan Wahidiyah dan pemerintah Republik Indonesia memang sudah berlangsung lama. Ini sejalan dengan prinsip dasar Wahidiyah yang selalu taslim (patuh dan tunduk) kepada pemerintah yang sah, tidak pernah berpolitik praktis, dan selalu mendukung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Wahidiyah: Tidak Kemana-Mana, Tapi Ada Di Mana-Mana

Wahidiyah Diundang Presiden Jokowi
Wahidiyah Diundang ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi

Salah satu prinsip khas Wahidiyah yang membuat gerakan ini berbeda dari organisasi keislaman lainnya adalah sikap non-partisan yang konsisten. Wahidiyah tidak berafiliasi dengan partai politik manapun, tidak terlibat dalam kontestasi kekuasaan, dan tidak pernah menjadikan perjuangannya sebagai kendaraan kepentingan kelompok tertentu.

Namun demikian, Wahidiyah ada di mana-mana. Para pengamalnya tersebar di berbagai lapisan masyarakat: ada yang menjadi pejabat pemerintah, anggota DPR, pengusaha, petani, pedagang, hingga masyarakat biasa. Semangat Wahidiyah bukan untuk merebut posisi, melainkan untuk mengisi posisi tersebut dengan akhlak dan pengabdian yang tulus kepada Allah, Rasul, dan bangsa.

Inilah yang membuat Presiden Jokowi seorang kepala negara yang dikenal menghormati para ulama dan tokoh spiritual bangsa merasa perlu untuk bertatap muka secara langsung dengan KH. Abdul Latif Madjid di Istana Negara.

Penutup: Undangan Istana sebagai Cermin Pengakuan Bangsa

Wahidiyah Diundang ke Istana Negara
Wahidiyah Diundang ke Istana Negara

Kunjungan Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA ke Istana Negara pada Rabu, 10 April 2019, atas undangan Presiden RI Joko Widodo, adalah sebuah lembaran emas dalam perjalanan panjang Perjuangan Wahidiyah. Peristiwa ini membuktikan bahwa perjuangan yang berlandaskan keikhlasan, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta pengabdian tulus kepada bangsa dan negara — pada akhirnya akan mendapatkan pengakuan dari sejarah.

Beliau bukan seorang politisi yang merebut kursi kekuasaan. Beliau bukan seorang pengusaha yang mengejar keuntungan materi. Beliau adalah seorang ulama, seorang mursyid, seorang bapak rohani bagi jutaan jiwa — yang dengan segenap hidupnya mengajak umat untuk kembali kepada Allah, mencintai Rasulullah SAW, dan mengabdikan diri untuk kebaikan sesama.

Dan negara pun melalui undangan Presiden Jokowi menyampaikan pesannya yang paling jelas: bahwa sosok seperti KH. Abdul Latif Madjid adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, maghfiroh, dan ridho-Nya kepada beliau. Dan semoga seluruh perjuangan, tetes keringat, serta doa-doa beliau terus menjadi cahaya yang menerangi perjalanan bangsa Indonesia menuju kebaikan. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Artikel ini disusun berdasarkan berbagai sumber terpercaya termasuk laporan dari Laduni.id, iNews.id, Surya.co.id (Tribunnews), NU Jatim, Sindonews, dan ANTARA News.

Tinggalkan komentar