Pernyataan Gus Dur : Wahidiyah Bukan Ajaran Sesat

Pernyataan Gus Dur: Wahidiyah Bukan Ajaran Sesat Fakta, Sejarah, dan Penjelasan Lengkap

Pendahuluan

Di tengah ragamnya tradisi amaliah Islam di Indonesia, tak sedikit amalan atau gerakan spiritual yang dituduh menyimpang bahkan “sesat” oleh sebagian kalangan — sebelum benar-benar dikaji secara mendalam. Salah satu yang paling sering menjadi perdebatan adalah Sholawat Wahidiyah dan ajaran yang menyertainya.

Pernyataan Gus Dur Wahidiyah Bukan Ajaran Sesat
Pernyataan Gus Dur: Wahidiyah Bukan Ajaran Sesat

Namun ada satu fakta yang kerap luput dari perhatian publik: KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 Republik Indonesia sekaligus salah satu ulama dan intelektual Islam paling berpengaruh di Nusantara, pernah secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya ketika Wahidiyah dicap sebagai aliran sesat.

Artikel ini hadir untuk meluruskan fakta, memaparkan sejarah yang utuh, serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan keagamaan tentang Wahidiyah — sebuah gerakan amaliah sholawat yang lahir dari rahim tradisi Islam Nusantara.

Siapa Gus Dur dan Mengapa Suaranya Penting?

Sebelum membahas pernyataannya, penting untuk memahami bobot otoritas Gus Dur dalam ranah keislaman Indonesia.

Abdurrahman Wahid akrab disapa Gus Dur lahir pada 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Beliau adalah cucu dari dua tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU): KH. Hasyim Asy’ari (dari pihak ayah) dan KH. Bisri Syansuri (dari pihak ibu). Gus Dur menempuh pendidikan di pesantren-pesantren terkemuka sejak kecil, kemudian melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo (Mesir) dan Universitas Baghdad (Irak).

Gus Dur kemudian menjadi Ketua Umum PBNU selama tiga periode (1984–1999), dan terpilih sebagai Presiden RI pada tahun 1999. Beliau dikenal sebagai tokoh yang menguasai khazanah keilmuan Islam klasik sekaligus wawasan keilmuan modern yang sangat luas.

Dalam konteks keagamaan, Gus Dur bukan hanya seorang politisi atau aktivis. Beliau adalah ulama yang memiliki kompetensi dalam ilmu fiqh, tasawuf, dan ushul fiqh. Pandangannya dalam masalah-masalah keagamaan memiliki dasar keilmuan yang kuat, bukan sekadar opini publik semata. Banyak kalangan — termasuk ulama-ulama besar — mengakui kedalaman spiritualitas Gus Dur. Syekh Hisyam Kabbani, tokoh ulama internasional terkemuka, bahkan secara terbuka menyatakan Gus Dur sebagai seorang wali besar, dan KH. Said Aqil Siradj juga meyakini kewalian beliau yang bersifat multidimensional.

Dengan latar belakang keilmuan dan spiritualitas seperti ini, pernyataan Gus Dur tentang Wahidiyah jelas bukan pernyataan sembarangan. Beliau berbicara berdasarkan pengetahuan yang mendalam tentang ajaran Islam, tradisi tasawuf, dan khazanah amaliah kaum Nahdliyin.

Pernyataan Tegas Gus Dur tentang Wahidiyah

Pernyataan Gus Dur tentang Wahidiyah disampaikan dalam sebuah kesempatan yang cukup terkenal di kalangan pengamal Wahidiyah. Pernyataan ini kemudian menjadi sangat viral dan bahkan direkam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial dengan judul: “Gus Dur Ora Terimo Wahidiyah Disesatkan” (Gus Dur Tidak Terima Wahidiyah Disesatkan).

Latar belakang pernyataan ini adalah merebaknya selebaran-selebaran dari kalangan tertentu yang menuding Wahidiyah sebagai ajaran yang menyimpang dari syariat Islam. Salah satu sumber utama tuduhan tersebut berasal dari sebuah buku yang diterbitkan terkait kalangan Pesantren Lirboyo Kediri, yang menyatakan bahwa sejumlah kiai Lirboyo melarang santri-santrinya mengamalkan Sholawat Wahidiyah karena dianggap bertentangan dengan syariat.

Merespons penyesatan ini, Gus Dur dengan tegas menunjukkan ketidaksenangannya. Inti dari pernyataan beliau adalah:

Wahidiyah tidak bisa disebut sesat. Tuduhan sesat tanpa bukti yang jelas kepada sesama Muslim adalah fitnah, dan fitnah itu lebih berat dari pembunuhan (والفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ القَتْلِ).

Gus Dur mengingatkan bahwa ajaran inti Wahidiyah — yaitu LILLAH (karena Allah) dan BILLAH (dengan pertolongan Allah) — sesungguhnya bukan hal baru dalam Islam. Konsep ini sudah dikenal dalam tradisi tasawuf dan ilmu hakikat Islam sejak berabad-abad lampau, sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab klasik seperti Kifayatul Atqiya’.

Bagi Gus Dur, seseorang yang menuduh suatu amalan keislaman sebagai sesat tanpa terlebih dahulu mengkaji secara mendalam, bahkan tanpa menunjukkan dalil yang sahih, telah melakukan tindakan yang tidak pantas — apalagi jika tuduhan itu datang dari seseorang yang mengaku ulama besar.

Kontroversi dan Tuduhan Sesat: Dari Mana Asalnya?

Jujur harus diakui bahwa kontroversi seputar Wahidiyah memang ada dan perlu dijelaskan secara proporsional agar pembaca memiliki gambaran yang utuh.

Tuduhan dari Sebagian Kalangan Lirboyo

Salah satu sumber tuduhan terkuat datang dari sebuah buku yang terkait dengan kalangan Pesantren Lirboyo, Kediri. Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa sejumlah kiai Lirboyo melarang santri-santrinya mengamalkan Sholawat Wahidiyah. Beberapa poin yang dipermasalahkan antara lain:

Pertama, adanya “jaminan” atau “garansi” dalam Lembaran Wahidiyah yang menyatakan bahwa siapa pun yang mengamalkan Sholawat Wahidiyah selama 40 hari ditanggung keselamatannya di hari kiamat beserta anak turunnya. Sebagian pihak menganggap redaksi ini sebagai bentuk ujub (bangga berlebihan dengan amal) yang termasuk dosa besar.

Kedua, anggapan bahwa Wahidiyah mengandung unsur-unsur yang tidak sesuai dengan syariat.

Jawaban dan Klarifikasi dari Pengamal Wahidiyah

Pihak Wahidiyah memberikan klarifikasi yang jelas mengenai poin-poin tersebut:

Mengenai “jaminan 40 hari”, perlu dipahami konteks historisnya. Redaksi jaminan itu adalah usulan dari KH. Abdul Madjid sendiri yang disetujui oleh seluruh peserta musyawarah ulama pada tahun 1963. Redaksi aslinya dalam bahasa Jawa berbunyi: “Menawi sampun jangkep 40 dinten boten wonten perobahan manah, kinging dipun tuntut dun-yan waukhron” — artinya: “Jika setelah 40 hari mengamalkan tidak ada perubahan dalam hati, boleh dituntut di dunia dan akhirat.” Ini bukan jaminan masuk surga secara otomatis, melainkan jaminan bahwa amalan ini akan memberi dampak positif pada hati pengamalnya — yaitu perubahan akhlak dan kedekatan dengan Allah.

Mengenai aspek syariat, seluruh amalan dalam Wahidiyah — termasuk sholawat, doa, dan mujahadah — adalah amalan yang dikenal dan diakui dalam tradisi Islam Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Tidak ada dalam ajarannya yang memerintahkan meninggalkan sholat, puasa, zakat, atau rukun Islam lainnya. Sebaliknya, Wahidiyah mendorong pengamalnya untuk lebih taat menjalankan syariat.

Sikap Muallif terhadap Pengkritik

Menariknya, KH. Abdul Madjid Ma’roef sendiri — sang pendiri Wahidiyah — tidak pernah memusuhi para pengkritiknya. Beliau justru memandang para pengontras Wahidiyah sebagai “kawan seperjuangan”, bukan lawan. Sikap ini menunjukkan keluasan hati dan kematangan spiritual seorang ulama sejati.

Pandangan Ulama Besar tentang Wahidiyah

Selain Gus Dur, sejumlah ulama besar Indonesia juga memberikan pandangan positif terhadap Wahidiyah.

Abdul Wahab Hasbullah (Rois ‘Am PBNU), Sebagaimana disebutkan di atas, KH. Abdul Wahab Hasbullah — salah satu ulama NU paling berpengaruh — bukan hanya menerima Sholawat Wahidiyah, tetapi menyatakan dirinya sebagai orang pertama yang menerima ijazahnya. Pujian beliau terhadap kedalaman ilmu KH. Abdul Madjid Ma’roef sangat tinggi.

Para Kiai yang Menerima Sholawat Wahidiyah

Sebelum disebarluaskan, KH. Abdul Madjid mengirimkan naskah Sholawat Wahidiyah kepada para ulama dan kiai di Kediri dan sekitarnya. Tidak satu pun dari mereka yang memberikan respons negatif. Semua menyatakan bahwa sholawat itu baik.

Kalangan Akademisi dan Peneliti

Wahidiyah juga telah menjadi objek kajian akademik di berbagai perguruan tinggi Islam. Penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan oleh para akademisi di antaranya dari UIN Sunan Ampel Surabaya menyimpulkan bahwa Wahidiyah adalah gerakan tasawuf kultural yang memiliki landasan kuat dalam tradisi Islam Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah.

Mengapa Wahidiyah Tidak Bisa Disebut Sesat?

Berdasarkan uraian di atas, setidaknya ada tujuh alasan kuat mengapa Wahidiyah tidak layak disebut sesat:

Landasan Akidah yang Sahih Wahidiyah berpegang pada akidah Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah (Aswaja) akidah yang dianut oleh mayoritas umat Islam di dunia, khususnya di Indonesia. Tidak ada ajaran Wahidiyah yang menyimpang dari akidah yang benar.

Amaliah Berbasis Sholawat Sholawat kepada Nabi SAW adalah ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam berdasarkan Al-Qur’an (QS. Al-Ahzab: 56) dan hadis-hadis sahih. Memperbanyak sholawat adalah anjuran agama, bukan kesesatan.

Prinsip LILLAH-BILLAH ada dalam Khazanah Islam Klasik Seperti yang ditunjukkan oleh Gus Dur, konsep LILLAH-BILLAH sudah tercantum dalam kitab-kitab tasawuf klasik seperti Kifayatul Atqiya’. Ini bukan ajaran baru, melainkan penerapan praktis dari nilai-nilai tasawuf yang sudah mapan.

Diterima oleh Ulama-Ulama Besar Penerimaan KH. Abdul Wahab Hasbullah dan berbagai ulama lainnya menunjukkan bahwa Wahidiyah tidak dipandang bermasalah oleh para ahlinya.

Tidak Bertentangan dengan Syariat Wahidiyah tidak memerintahkan meninggalkan kewajiban agama apa pun. Justru sebaliknya, ia mendorong pengamalnya untuk lebih taat dalam menjalankan syariat Islam.

Tujuannya Mulia: Perbaikan Akhlak Umat Tujuan penyiaran Wahidiyah adalah murni untuk memperbaiki moral dan spiritual masyarakat sesuai dengan misi dakwah Islam secara umum.

Tidak Ada Fatwa MUI yang Menyesatkannya Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai lembaga otoritatif yang berwenang mengeluarkan fatwa tentang kesesatan suatu ajaran, tidak pernah mengeluarkan fatwa resmi yang menyatakan Wahidiyah sebagai aliran sesat. Ini adalah fakta hukum yang sangat penting.

Wahidiyah dan Organisasi Islam di Indonesia

Penting untuk memahami posisi Wahidiyah dalam ekosistem Islam Indonesia secara lebih luas.

Hubungan dengan NU

Wahidiyah memiliki hubungan sejarah yang erat dengan Nahdlatul Ulama. KH. Abdul Madjid Ma’roef sendiri adalah aktivis NU yang pernah menjabat di kepengurusan Syuriah NU di Kediri. Banyak pengamal Wahidiyah juga adalah warga NU. Tokoh-tokoh NU besar termasuk Gus Dur dan KH. Abdul Wahab Hasbullah memberikan dukungan dan penerimaan terhadap Sholawat Wahidiyah.

Penyebaran Wahidiyah

Dari Kediri, Wahidiyah telah menyebar ke seluruh penjuru Jawa Timur, Jawa Tengah, dan berbagai provinsi lainnya di Indonesia. Bahkan ada pengamal Wahidiyah di luar negeri. Mujahadah Kubro setiap Muharram dihadiri oleh puluhan ribu orang dari berbagai daerah.

Kesimpulan 

Berdasarkan seluruh uraian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan:

  1. Pertama, pernyataan Gus Dur yang menolak penyesatan Wahidiyah bukan sekadar pernyataan emosional, melainkan didasarkan pada pengetahuan keagamaan yang mendalam. Sebagai ulama yang menguasai ilmu fiqh dan tasawuf, Gus Dur mengetahui bahwa ajaran inti Wahidiyah — yaitu LILLAH-BILLAH — memiliki landasan kuat dalam khazanah Islam klasik.
  2. Kedua, Sholawat Wahidiyah lahir dari proses spiritual yang panjang dan kemudian mendapat penerimaan dari para ulama besar. Tidak ada elemen dalam Wahidiyah yang secara substansial bertentangan dengan syariat Islam dan akidah Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah.
  3. Ketiga, menuduh suatu amalan keislaman sebagai “sesat” tanpa kajian yang mendalam dan tanpa dalil yang kuat adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Gus Dur dengan tepat mengingatkan bahwa fitnah terhadap sesama Muslim adalah dosa yang sangat besar.
  4. Keempat, Wahidiyah adalah bagian sah dari kekayaan tradisi Islam Indonesia — sebuah gerakan amaliah yang bertujuan mendekatkan umat kepada Allah dan memperbaiki akhlak, selaras dengan misi Islam secara universal.

Semoga uraian ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua untuk lebih bijak dalam menilai tradisi-tradisi keislaman yang ada, tidak terburu-buru dalam melabeli sesuatu sebagai “sesat”, dan selalu mendahulukan kajian yang mendalam sebelum membuat kesimpulan.

Referensi

  1. Wahidiyah.org — Sejarah Lahirnya Sholawat Wahidiyah
  2. Sumsel.kemenag.go.id — Sejarah Lahirnya Sholawat Wahidiyah (Kemenag Sumatera Selatan)
  3. Laduni.id — KH Abdul Madjid Ma’roef (Wiki Aswaja NU)
  4. Digilib.uinsa.ac.id — Sholawat Wahidiyah di Pondok Pesantren Kedunglo (UIN Sunan Ampel Surabaya)
  5. Sanadmedia.com — Pandangan Gus Dur tentang Islam
  6. UIN Gusdur Pekalongan — Abdurrahman Wahid, Pluralitas dan Pluralisme Agama
  7. Tujuhtujuhbelas.blogspot.com — Gus Dur Ora Terimo Wahidiyah Disesatkan
  8. A-rega.com — Wahidiyah Bukan Ajaran Aliran Sesat
  9. Bppwpusat.wordpress.com — Sholawat Wahidiyah: Penyiaran & Pembinaan Wahidiyah
  10. Mahadalyjakarta.com — Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Seorang Wali Allah dan Penyambung Tradisi Spiritual
Artikel ini disusun untuk keperluan edukasi dan meluruskan pemahaman publik. Seluruh fakta yang disajikan dapat dilacak dan diverifikasi melalui sumber-sumber yang tercantum di bagian referensi.

© 2019 — Silakan disebarluaskan dengan menyertakan sumber.

Tinggalkan komentar